Coba pikirkan sejenak saja, seberapa sering kita
mengucapkan sebuah kata maaf
kepada siapapun atas segala kesalahan yang telah
kita perbuat ?
Memang meminta maaf, terlihat tak terlalu sulit
kita mohonkan kepada orang lain.
Pernahkah kita terlintas dalam pikiran bahwa
memberikan maaf lebih sulit ketimbang sekedar mengumbar ribuan permintaan maaf
pada banyak orang. Mengapa demikian ?
Perhatikanlah di saat orang lain menggoreskan
sedikit saja luka, kita seringkali menyukai untuk menyimpannya dalam
ruang-ruang hati kita hingga menimbulkan warna sebagian
rongga berwarna lebih pekat. Atau kita
menyimpannya di setiap detak jantung
ketimbang membiarkan dia pergi berlalu begitu
saja.
Lebih celaka lagi kita enggan melepas dan menyukai
untuk mendekapnya berlama2 hingga tanpa disadari memudahkan jalan pikiran untuk
berbalas luka sampai menggapai pikiran.
Bila kita sadari dengan benar, memendam luka atas
kesalahan orang lain akan membuat jiwa seakan terikat belenggu kekesalan,
kemarahan, kesakitan yang lambat laun menjadikan lemahnya hati untuk merdeka.
Bagaikan selembar kertas putih, kita membiarkan
tinta- tinta hitam kegeraman hati menitikan noda-noda di hamparan kesuciannya.
Memang tak mudah melupakan luka yang begitu membekas di lorong-lorong jiwa
kita, terlebih kita hal itu begitu menyakitkan.
Tetapi apakah kita akan terus membiarkan hati
dihantui perasaan kecewa dan sedih hingga keresahan hadir mengelilingi alam
pikiran. Ketidakmampuan atau Ketidakmauan kita memaafkan orang lain seperti
penyakit berbahaya yang siap menggerogoti kebahagiaan .
Pikirkanlah, apakah kita sering menyimpan amarah ?
Apakah kita berpikir dan marah karena dunia
berjalan tidak seperti yang kita inginkan ?
Seberapa sering Kita marah karena istri atau suami,
orang tua atau mertua, anak, rekan Kerja, atasan, dan bawahan, tetangga dst,
tak melakukan apa yang kita inginkan.
Hal ini semakin parah, ketika kita memendam
kemarahan ini berhari-hari, bahkan bertahun- tahun.
Kenyatannya yang kita dapati banyak sekali
kejadian yang mudah memancing emosi kita. Entah itu di jalan, di kantor, di
rumah, dan dimanapun kita berada.
Secara kasat mata, terdengar di telinga, dan
dirasakan oleh hati, banyak sekali kejadian yang mungkin kita temui, pengendara
motor yang seenaknya menyalib kendaraan kita atau mengabaikan hak-hak kita
sebagai pejalan
kaki yang dapat membuat celaka. Korupsi tersebar
dimana-mana dan penyelesaian yang begitu lamban bahkan berujung hilang tak
berbekas. Sering membantu siapapun dalam bentuk apapun tanpa berbalas terima
kasih bahkan seperti air susu dibalas air tuba.
Belum lagi ribuan perlakuan yang tidak
menyenangkan yang kita terima dari orang, ditipu, dibohongi, dikhianati,
diberlakukan tidak adil, atau bahkan dizhalimi. Mungkin saja Kita berpikir
bahwa orang-orang tak tahu diri ini sudah sepantasnya kita benci. ......
ternyata kita telah lupa sesuatu bahwa kebencian
yang kita simpan hanyalah merugikan kita sendiri pada akhirnya.
Menurut penelitian menunjukkan ketidakrelaan
memaafkan orang lain memiliki dampak yang begitu hebat terhadap tubuh kita: ia
mampu menciptakan ketegangan, ia mampu mempengaruhi sirkulasi darah dan sistem
kekebalan, ia mampu meningkatkan tekanan jantung, otak dan setiap organ dalam
tubuh kita.
Bahkan kemarahan yang terpendam mengakibatkan
berbagai penyakit seperti pusing, sakit punggung, leher, dan perut, depresi,
kurang energi, cemas, tak bisa tidur, ketakutan, dan tak bahagia.
Marilah kita berusahalah untuk mengikis perlahan
kristal-kristal hitam kecewaan dengan membuka sedikit-sedikit pintu maaf untuk
orang lain. Biarkan keikhlasan hati menelurusi dengan lorong-lorong jiwa tanpa
tersendat menuju kebersihan hati..
Ribuan maaf bisa kita mohonkan, tetapi mengapa
satuan maaf tidak dapat kita berikan. Itu sebuah pilihan, bukan!
Have a positive day!